Harga Minyak Melonjak 4 Persen usai China Setop Ekspor BBM, AS Kirim Pasukan ke Timur Tengah. (Foto: IDXCHANNEL/Magnific)
Harga minyak dunia naik sekitar 1 dollar AS per barrel pada akhir perdagangan Rabu (30/9/2026) waktu setempat atau Kamis (1/10/2026) pagi WIB. Kenaikan harga minyak terjadi di tengah terhentinya pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta mengetatnya pasar bahan bakar AS. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak November yang berakhir pada Rabu naik 91 sen atau 0,9 persen menjadi 103,50 dollar AS per barrel.
Qatar pada Selasa menyatakan harapan diplomasi ulang-alik antara Teheran dan Washington dapat menghasilkan terobosan dalam pembicaraan. Namun, Presiden AS Donald Trump membantah laporan Axios dan CNN yang mengutip pejabat AS bahwa dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah “konkret” Teheran terkait program nuklirnya.
Di sisi pasokan, Arab Saudi kembali melakukan pemuatan kapal tanker minyak dari pelabuhan Laut Merah di Yanbu setelah mengaktifkan kembali operasional pipa East-West. Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk telah pulih menjadi 23,3 juta barrel per hari dalam sepekan terakhir, sejalan dengan rata-rata sepanjang 2025. Bank tersebut menyebut ekspor minyak dari kawasan itu meningkat dua kali lipat pada September. Sementara itu, JPMorgan memperkirakan rata-rata ekspor minyak selama 10 hari terakhir bertahan di level 20,5 juta barrel per hari atau sekitar 89 persen dari level 2025.
Laporan Wall Street Journal menyebutkan AS berencana mengirim kapal induk ketiga dan hingga 10.000 tambahan pasukan ke Timur Tengah. Langkah tersebut dilakukan ketika Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS. Trump mengatakan dirinya masih mempertimbangkan berbagai opsi terkait Iran.
Pernyataan Trump, ditambah dengan keputusan China menghentikan ekspor produk minyak, mendorong harga minyak berbalik menguat setelah sebelumnya sempat turun sekitar 1 persen. Reuters melaporkan bahwa kilang-kilang minyak China telah menghentikan ekspor produk minyak ke negara-negara di luar Hong Kong dan Makau hingga pemberitahuan lebih lanjut, menurut informasi dari empat sumber yang mengetahui persoalan tersebut. Di tengah pasokan minyak mentah yang masih mengalir ke pasar, persediaan diesel dan produk olahan minyak lainnya masih terbatas akibat kerusakan infrastruktur kilang di kawasan Teluk dan Rusia.
Pasar minyak mentah global mengalami kenaikan tipis pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Pergerakan ini dipicu kebijakan China yang menghentikan pengiriman bahan bakar ke luar negeri. Kenaikan harga minyak juga terdorong laporan pengerahan pasukan tambahan serta kapal induk Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah. Di saat bersamaan, Washington mendesak Uni Eropa melepas cadangan solar darurat guna menekan krisis.
Penguatan ini melanjutkan tren positif pada hari Kamis, ketika Brent melesat lebih dari 4 dolar AS dan WTI menanjak melebihi 2 dolar AS. Pergerakan tajam tersebut dipicu kekhawatiran krisis pasokan energi global yang semakin buruk. Meski menguat dalam harian, Brent berada di jalur penurunan mingguan sekitar 1,93 persen. Pergerakan ini terjadi setelah Brent membukukan kenaikan bulanan hingga 14 persen pada September, sementara WTI naik sekitar 4 persen.
Kepala Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai para pelaku pasar sedang mencerna berbagai sinyal yang saling bertolak belakang. Kondisi ini membuat aktivitas perdagangan sempat menahan diri setelah gejolak tinggi pada hari sebelumnya. Langkah pengetatan ekspor oleh Beijing bertepatan dengan libur panjang selama sepekan yang dimulai Kamis. Pemerintah China belum memberikan izin ekspor bagi kilang-kilang utama ke luar wilayah Hong Kong dan Macau sepanjang Oktober.
Hingga kini belum ada kepastian mengenai pembukaan kembali izin ekspor kilang setelah masa liburan berakhir pada 7 Oktober. Kebijakan ini mengulang pembatasan ketat pasokan bahan bakar yang sempat diberlakukan pada Maret lalu. Di jalur diplomasi energi, pemerintahan Trump meminta Jerman dan Prancis melepaskan cadangan darurat solar. Langkah tersebut ditujukan untuk meredam lonjakan harga serta menghindari potensi larangan ekspor solar dari pihak AS.