Ilustrasi Urban Farming (Foto oleh Mertani)
Penulis: Keisha Aretha Rahma
Riset: Irma Mulya Adnandita
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup bersama Dharma Wanita Persatuan mengajak masyarakat menerapkan urban farming melalui Pelatihan Teknologi Urban Farming Terintegrasi pada 13 Juni 2026 di Jakarta. Urban farming atau pertanian perkotaan merupakan kegiatan bercocok tanam di lingkungan perkotaan dengan memanfaatkan lahan yang tersedia, seperti pekarangan rumah, gang permukiman, balkon, hingga lahan sempit. Urban farming dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti vertikultur, yaitu menanam secara bertingkat; hidroponik, yaitu menanam tanpa tanah dengan menggunakan air dan nutrisi; serta akuaponik, yaitu sistem yang menggabungkan budidaya tanaman dan ikan.
Sementara itu, Kelompok Tani Swa Katon Asri di Kota Yogyakarta menggelar panen perdana hasil pertanian dengan memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam padi di lahan sempit.
Anggota kelompok tani, Murharjo, menjelaskan bahwa budidaya padi menggunakan galon bekas mulai dilakukan sekitar tiga bulan sebelumnya dengan pendampingan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta. Selain menanam padi, kelompok tani tersebut juga membudidayakan ikan lele dan berbagai jenis sayuran, seperti cabai, tomat, dan terong. Inovasi ini dilakukan untuk memanfaatkan ruang terbatas di perkotaan sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengapresiasi upaya kelompok tani dalam mengembangkan pertanian perkotaan dan mendorong masyarakat agar mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
Selain itu,, kegiatan urban farming juga dilakukan di berbagai pemukiman masyarakat yang ada di Indonesia, di antaranya:
Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat
Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat, berhasil memanen 14,2 kilogram ikan lele dan sekitar 3 kilogram sayuran dari lahan urban farming pada Selasa, 4 Agustus 2026. Hasil panen sayuran tersebut terdiri atas pare, kacang panjang, pakcoy, dan kangkung yang dibudidayakan di kawasan Rumah Dinas Kelurahan Tanjung Duren Selatan. Lurah Tanjung Duren Selatan, Indri Prawiji, menyampaikan bahwa kegiatan urban farming dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan dan memanfaatkan lahan terbatas secara produktif. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai cara menanam sayuran dan memelihara ikan di lingkungan permukiman. Hasil panen tersebut dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sekaligus membantu memenuhi sebagian kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar. Melalui program ini, pemerintah kelurahan berharap masyarakat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan, menjaga kelestarian ruang hijau, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengapresiasi program urban farming yang dikembangkan warga RW Tujuh, Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, karena mampu menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kegiatan urban farming tersebut dikelola oleh Bara Hidro milik Kartib Bayu bersama warga setempat sejak 2023, mulai dari pembenihan hingga pemasaran hasil panen. Program pertanian perkotaan ini memanfaatkan atap bangunan di lantai empat sebagai lahan tanam dengan sistem hidroponik dan pertanian organik. Kelompok tani mampu melakukan panen sekitar delapan kali dalam sebulan dengan total produksi mencapai 160 kilogram sayuran. Muhammad Farhan berharap konsep urban farming ini dapat diterapkan di wilayah lain agar setiap RW mampu mengembangkan sumber pangan mandiri,meningkatkan pendapatan warga, dan menciptakan lingkungan yang lebih hijau serta produktif.
Kota Surabaya
Warga di Surabaya mengembangkan berbagai upaya ramah lingkungan untuk menciptakan ekosistem kampung yang lebih bersih dan berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan lubang biopori untuk membantu penyerapan air ke dalam tanah serta budidaya maggot untuk mengolah sampah organik. Maggot dimanfaatkan untuk mengurai sampah organik, seperti sisa makanan, sehingga dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Selain membantu mengatasi persoalan sampah, budidaya maggot juga menghasilkan sumber pakan alternatif bagi ikan dan ternak yang memiliki nilai ekonomi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam mengelola sampah dan menjaga lingkungan dapat menciptakan kawasan permukiman yang lebih sehat dan berkelanjutan. Melalui penerapan kebiasaan ramah lingkungan, warga diharapkan dapat membangun ekosistem kampung yang mendukung pengelolaan sampah, menjaga ketersediaan air, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan
Kegiatan urban farming telah banyak dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Hal tersebut membuktikan bahwa ketahanan pangan merupakan sesuatu yang harus diwujudkan demi keberlangsungan hidup masyarakat. Dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada, masyarakat dapat mewujudkan ketahanan pangan secara mandiri dengan dimulai dari skala rumah tangga yang menjadi skala terkecil di dalam masyarakat. Dengan begitu, budaya urban farming bisa dilakukan dan dikembangkan untuk selanjutnya dimanfaatkan.