Ilustrasi telur ayam (Foto: Erol Ahmed/Unsplash)
Puluhan peternak ayam pedaging dan petelur dari berbagai wilayah Solo Raya (Solo, Klaten, Karanganyar, dan Sukoharjo) menggelar aksi mandi telur di Bundaran Gladak, Solo, Selasa (07/07). Aksi ini digelar sebagai protes terhadap anjloknya harga ayam hidup dan telur yang dinilai sudah jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) yang mengakibatkan kerugian besar.
Menurut data dari Koperasi Peternakan Unggas Sejahtera (KPUS) pada Kamis (2/7), harga telur ayam di tingkat peternak merosot ke kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram, di mana angka tersebut berada jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.
Penurunan harga ini, menurut Kementerian Pertanian, terjadi akibat ketidakseimbangan antara ketersediaan stok yang melimpah dengan permintaan pasar yang menurun. Dinamika pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh hukum penawaran dan permintaan (supply and demand). Menurutnya, gangguan pada keseimbangan kedua faktor tersebut menjadi penyebab utama koreksi harga yang cukup dalam.
Salah seorang peternak asal Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng, Eko Murdiyanto, mengungkapkan bahwa anjloknya harga ini mulai terasa sejak masa libur sekolah, di mana permintaan pasar berkurang drastis. Akibatnya, stok telur menumpuk di kandang maupun gudang pedagang. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar karena telur busuk, sebagian peternak terpaksa melepas produknya dengan harga di bawah harga pokok produksi. Para peternak berharap pemerintah untuk terus mengawal distribusi pakan dan memastikan harga jual di tingkat peternak tidak terus tertekan oleh biaya produksi. Selain itu, menurut Eko, persoalan yang dihadapi peternak bukan hanya soal harga jual, tetapi juga kebijakan pemerintah dalam mengatur pasokan. Salah satu yang disorot adalah impor Grand Parent Stock (GPS) atau bibit induk ayam tingkat tertinggi yang menurutnya harus dikendalikan lebih ketat, agar keseimbangan pasokan dan kebutuhan pasar tetap terjaga.
Pengamat ekonomi Universitas Padjadjaran, Ferry Hadiyanto, menilai anjloknya harga telur dipengaruhi kombinasi peningkatan produksi dan melemahnya permintaan. Investasi di sektor ayam petelur meningkat dalam setahun terakhir karena bisnis tersebut sebelumnya dianggap menguntungkan. Akibatnya, pasokan telur meningkat signifikan.
Guna menyelesaikan persoalan anjloknya harga telur tersebut, Pengamat ekonomi Universitas Padjadjaran, Ferry Hadiyanto, menyarankan pemerintah mengeluarkan kebijakan jangka pendek berupa subsidi bagi komponen impor pakan dan vaksin ternak untuk membantu meringankan beban peternak.
Penulis: Keisha Aretha
Riset : Ayudya Azzahra