Pemerintah menyiapkan alternatif gas subsidi untuk mengurangi ketergantungan impor LPG. (Sumber: wartaekonomi.co.id)
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan Compressed Natural Gas (CNG) ukuran 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG subsidi untuk rumah tangga. Program ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang selama ini masih tinggi.
Beban Impor LPG dan Potensi Gas Alam Domestik
Langkah tersebut dilakukan karena kebutuhan LPG nasional masih sangat bergantung pada impor. Saat ini, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun, sedangkan produksi dalam negeri hanya berkisar 1,8–1,9 juta ton. Akibatnya, sekitar 75–80 persen kebutuhan LPG nasional masih harus dipenuhi dari impor, sehingga pemerintah mencari sumber energi yang dinilai lebih berkelanjutan.Pemerintah menilai Indonesia memiliki cadangan gas alam domestik yang besar, tetapi pemanfaatannya belum optimal. Mayoritas cadangan yang melimpah tersebut berupa gas C1 dan C2, sedangkan LPG berasal dari gas C3 dan C4. Karena itu, pemerintah mulai mengembangkan pemanfaatan gas domestik menjadi CNG untuk mengurangi ketergantungan impor energi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut cadangan gas baru di Indonesia diproyeksikan mampu menopang kebutuhan energi rumah tangga pada masa mendatang.
Diversifikasi Energi untuk Ketahanan Nasional
Bahlil menyoroti bahwa kebutuhan energi nasional ke depan tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis sumber energi rumah tangga saja. Pemerintah menilai penggunaan LPG 3 kilogram dalam jangka panjang perlu dievaluasi karena pola konsumsi energi rumah tangga terus meningkat. Oleh karena itu, pemerintah mulai mendorong diversifikasi energi, yaitu memperluas pilihan energi agar tidak terkonsentrasi pada LPG saja. Pengembangan CNG ini disebut sebagai bagian dari strategi transisi energi domestik dan optimalisasi sumber daya dalam negeri.Saat ini, pemerintah bersama Pertamina masih menjalankan uji coba tahap ketiga untuk tabung CNG ukuran 3 kg sebelum masuk ke tahap produksi. Fokus utama pengujian adalah aspek keselamatan dan keamanan penggunaan karena tekanan CNG mencapai 200–250 bar, jauh lebih tinggi dibanding LPG rumah tangga.
Uji Coba Keamanan dan Kesiapan Kompor Masyarakat
Untuk meminimalkan risiko, tabung CNG rumah tangga dirancang menggunakan katup pengaman (valve) untuk mengatur aliran gas. Pemerintah menyatakan bahwa kompor yang saat ini digunakan masyarakat tidak perlu diganti karena desain tabung sedang dikembangkan dan disesuaikan dengan sistem valve pengaman yang sudah ada.
Produksi CNG ukuran 3 kg ditargetkan dapat mulai berjalan pada Juli 2026 apabila seluruh proses pengujian telah selesai dilakukan. Pemerintah menilai transformasi energi rumah tangga perlu dimulai sejak sekarang untuk mengantisipasi tekanan kebutuhan energi di masa depan, sekaligus membangun sistem energi yang dinilai lebih adaptif terhadap perubahan kondisi pasar energi global. Bahlil menekankan bahwa pengembangan energi domestik tidak hanya bertujuan menekan biaya, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah menyebut perubahan sumber energi rumah tangga nantinya akan dilakukan secara bertahap agar masyarakat memiliki waktu untuk beradaptasi.
#CNG3Kg #PenggantiLPG #EnergiRumahTangga #TabungGasCNG #BahlilLahadalia
Penulis : Azar Amalanisa Syafir
Riset : Qibty Fatiha Zindah