Suasana lahan pinggir selokan yang ditanami tumbuhan di Kelurahan Baciro (Foto: bacirokel.jogjakota.go.id)
Penulis: Keisha Aretha
Riset: Ayudya Azzahra
Tidak memiliki lahan terbuka bukan menjadi alasan bagi warga Baciro di Yogyakarta untuk berhenti bercocok tanam. Di tengah padatnya pemukiman di mana rumah-rumah berdiri cukup rapat, warga setempat membuktikan bahwa kreativitas mampu mengatasi keterbatasan ruang. Mereka berhasil menyulap area di atas selokan yang berada di samping gang menjadi sebuah kebun sayur organik yang hijau dan subur.
Inisiatif luar biasa ini dikelola oleh Kelompok Tani Timoho Ngremboko. Kelompok tani ini beranggotakan sekitar 20 hingga 25 warga yang berasal dari RT 80 dan RT 81, RW 19, yang berlokasi di Jalan Melati Wetan I, Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Di sepanjang area selokan tersebut, kini ditumbuhi sekitar 25 jenis sayuran. Berbagai komoditas hortikultura tertata dengan baik, di antaranya meliputi kubis, kubis bunga, selada, kangkung, tomat, sawi, stroberi, terong, kucai, seledri, hingga loncang. Seluruh tanaman ini dibudidayakan secara organik demi menjaga kesehatan dan kualitas hasil panen.
Dalam praktiknya, warga menggunakan media tanam berupa tanah yang telah dicampur dengan pupuk kandang. Untuk menjaga kesuburan tanaman, setelah sekitar setengah bulan berjalan, pupuk kandang kembali diberikan. Menariknya lagi, guna menghemat biaya operasional, warga memanfaatkan galon air mineral bekas sebagai pot tanaman. Galon-galon bekas tersebut diperoleh secara kreatif dari bank sampah yang berada di lingkungan RW setempat.
Hasil panen dari kebun inovatif ini tidak hanya dikonsumsi oleh anggota kelompok tani saja. Daryanti selaku pengelola Kelompok Tani Timoho Ngremboko menyebutkan bahwa warga sekitar, anak-anak kos yang tinggal di kawasan tersebut, hingga masyarakat umum yang sedang melintas dapat turut membeli hasil kebun. Karena keterbatasan lahan, hasil panen memang tidak terlalu banyak dan tidak dapat dipetik setiap hari. Kendati demikian, hasil penjualan dari sayuran ini tetap mampu menjadi sumber pemasukan tambahan bagi kelompok, yang kemudian diputar kembali untuk membeli bibit serta pupuk.
Tidak berhenti pada budidaya sayur-mayur saja, Kelompok Tani Timoho Ngremboko juga memperluas kegiatan produktif mereka dengan membudidayakan lele dan ayam. Sebanyak 300 bibit lele sebelumnya telah ditebar di sebuah kolam khusus. Ikan lele yang sudah siap panen kemudian dijual kepada warga sekitar. Selain itu, saat ini terdapat pula empat ekor ayam yang turut dipelihara oleh kelompok.
Meski saat ini kebun dan kegiatan budidaya tersebut telah dikelola secara mandiri dan berjalan lancar, pada awal pembentukannya warga sempat menghadapi sejumlah kendala. Salah satu tantangan utama yang sempat dirasakan oleh kelompok adalah masalah pengairan. Sebelum akhirnya mendapatkan bantuan, warga harus menggunakan saluran air secara bergantian dengan aliran irigasi di wilayah lain.
Kini, kerja keras dan ketekunan warga Baciro telah membuahkan hasil manis, menjadikan kawasan gang sempit dan selokan sebagai contoh inspiratif ketahanan pangan perkotaan yang mandiri dan produktif.