News

Pelangi di Bekas Kandang Sapi

0

Wisata Tenun Moyudan yang dikenal di Dusun Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Sleman memiliki keunikan tersendiri. Dusun ini menjadi dusun pertama yang memproduksi stagen warna bermotif pelangi menggunakan alat tenun tradisional. Selain itu, masyarakatnya yang tergabung dalam UB. Pelangi Sejati memproduksi tenun di bekas kandang sapi.

Ide ini berawal dari sapi-sapi milik Retno Prihatini dan Muhammad Sutikno yang tak kunjung hamil setelah dikawinkan, sehingga dua tahun merugi. Sapi-sapi tersebut dijual. Pasangan suami istri ini pun mengarahkan warga untuk melakukan workshop menenun di kandang sapi yang sudah menganggur ini. Semakin banyak pengunjung biro travel yang menjalin kerja sama dan pemasaran produk yang berkembang pesat pun menjadi faktor pendukung. Kegiatan di bekas kandang sapi ini dimulai pada awal tahun 2019.

“Warga merasa mudah melakukan produksi karena tak perlu berpindah-pindah rumah,” ujar Retno Prihatini. Retno Prihatini juga menambahkan, dinding anyaman bambu dan jendela milik warga yang sudah tak terpakai dimanfaatkannya untuk mempercantik bekas kandang sapi miliknya. Selain itu juga didukung dengan beberapa hiasan lampu bohlam kecil berwarna kuning.

Sedangkan menurut Aster, koordinator UB. Pelangi Sejati, masyarakat hanya memperoleh Rp 500.000,00 per bulan dengan harga produk mulai Rp 10.000,00 hingga Rp 300.000,00. Meski mempertahankan menggunakan alat tradisional, tetapi produk yang dihasilkan berkualitas, tahan, dan tidak luntur. Aster mengaku, hasil tenun ini sudah sampai kota lain dengan sistem online. “Kita kalau pemasaran sudah sampai luar kota juga. Kita lewat online juga lewat pameran-pameran. Terus kalau harapannya ya mudah-mudahan makin maju, makin banyak dikenal, dan kita bisa berbadan hukum, istilahnya menjadi IKM stagen pelangi yang berbadan hukum,” tutur Aster Harsiyah.

Bekas kandang sapi ini akan dipercantik dengan gazebo di belakang agar tamu bisa bermalam, tak perlu harus bermalam di rumah warga. Bentuk kandang tetap sesuai dengan aslinya agar terlihat alami. Selain itu juga akan ditambah bangku dan tanaman. Retno mengatakan, jika akan menambah alat untuk membuat kain lurik serta penambahan tenaga kerja saat banyaknya orderan. (Retri)

Katarina Retri

Bapak Pantomim Indonesia Yang Tak Pernah Pudar

Previous article

Menulusuri Toleransi Balinya Yogyakarta

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in News