0

“Otw, ya!” “Lagi banyak tugas, nih,” “Liat nanti, ya,” tiga buah kalimat yang patut dicurigai. Sepele, namun jika ditimbun akan menjadi candu. Jika candu, cobalah ajak orang itu untuk bercengkerama pada pukul 3 pagi.

Mengapa pada sepertiga malam? Karena, di waktu tersebutlah kita akan mengetahui orang lain dengan sebenar-benarnya. Kebohongan “otw” dan “tugas” akan kalah jauh dengan kejujuran soal keimanan, keluarga, karir, masa depan, percintaan (toxic relationship dan sex life), serta keuangan, yang notabene bukan hal ringan lagi. Setidaknya itu merupakan pengalaman penulis yang kerap terjadi.

(Sumber: Wattpad/bsndtears)

3 AM conversation ini seolah punya daya untuk meredakan kecenderungan seseorang yang merasa baik-baik saja—padahal tidak—menjadi bisa berkata dengan jujur leluasa.

Penulis yakin, beberapa dari Liners juga merasa relate dengan percakapan pukul 3 pagi ini, bagaimana ia seperti memiliki kekuatan untuk membuat seseorang menjadi apa adanya. Ditemani kacang, gorengan, mie instan, kopi, kola, atau orang t*a.

Sigmund Freud, penemu teori psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi
(Sumber: Getty Images)

Penulis mencoba menganalisis menggunakan teori psikoanalisis yang dipopulerkan oleh Sigmund Freud. Bagi pria asal Austria ini, tingkah laku manusia digerakkan oleh dorongan-dorongan impulsif bawah sadar yang ditransformasi sedemikian rupa menjadi berbagai wujud tingkah laku, termasuk kemudahan seseorang untuk lebih terbuka pada pukul 3 pagi.

Dalam teori psikoanalisis, hampir sebagian besar perilaku seseorang dipengaruhi oleh kekuatan alam bawah sadar. Freud membagi kepribadian ke dalam tiga (3) tingkat kesadaran: conscious (alam sadar), preconscious (alam pra-sadar), dan unconscious (alam bawah sadar).

(Sumber: We Heart It/@_virya)

Malam dan dini hari adalah waktu alam bawah sadar menurut teorinya. Termasuk pukul 3 pagi, merupakan waktu di mana setiap orang pada umumnya sudah tertidur: berada di bawah alam sadar. Jadi, apa yang kita bicarakan pada pukul “orang normal” tidur, merupakan perkataan yang didasari oleh unconscious.

Dari segi internal, tingkat ketidaksadaran manusia pada pukul 3 pagi lebih tinggi dari pada tingkat kesadarannya. Eksternalnya, lingkaran pertemanan atau lawan bicara yang mendukung membuat kita terbawa suasana sehingga menjadi lebih nyaman saat bercerita. Karena dua hal inilah, kemungkinan besar banyak terdapat cerita berat yang terucap pada sepertiga malam.

Baca juga: Tips Produktif di Tengah Pembelajaran Online Ala Mahasiswa

Percakapan pukul 3 pagi sangatlah magis, tiada dua. Dengannya, tercipta berbagai cerita yang tidak disangka sehingga melahirkan pelajaran berharga. Tak jarang juga terdapat sebuah canda tawa dan waktu yang dilupa.

Tidak perlu sering-sering, karena selain ada raga yang perlu dijaga, kualitas di atas kuantitas harus tetap menjadi pola.

(Ricky Setianwar)

Ricky Setianwar
Tulisan-tulisan yang seharusnya berada di kakus, dididik di sini; untuk menghilangkan noda di kamus.

Tips Liburan Akhir Tahun di Tengah Pandemi COVID-19

Previous article

Guru dan Murid Positif COVID-19, Sekolah Tatap Muka di Gunungkidul Dihentikan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Lifestyle