InfografisTravel

Wisata Dibalik Filosofi Sumbu Imajiner Yogyakarta

0

Yogyakarta – Liners sudah tahu belum, kalau ternyata Yogyakarta memiliki sumbu imajiner? Selain surganya tempat wisata, Yogyakarta juga sarat akan filosofi objek wisatany terutama tempat wisata sejarah atau kuno, seperti halnya sumbu imajaner. Sumbu imajiner adalah visualisasi tata ruang wilayah DIY menurut Sri Sultan Hamengku Buwono I. Sumbu imajiner meliputi Gunung Merapi – Kraton – Laut Selatan (Samudra Indonesia) dengan menggunakan konsep Manunggaling Kawula Gusti. Panggung Krapyak ke Utara menggambarkan perjalanan manusia sejak dilahirkan hingga dewasa, menikah sampai melahirkan anak. Sedangkan Tugu Golong Gilig/Pal Putih ke selatan melambangkan perjalanan manusia untuk menghadap Sang Khalik.

Semenarik filosofi sumbu imajiner, setiap objek yang dilalui sumbu imajiner pun sangat menarik untuk dikunjungi. Yuk simak ulasannya!

Merapi

Berada di ketinggian 2.930 Mdpl, kawasan Merapi berudara sejuk dan tenang, jauh dari bisingnya hiruk pikuk kota. Hal tersebut menjadikan kawasan wisata Merapi patut masuk daftar kunjungan wisata Yogyakarta nih, Liners. Selain menandakan udara yang sejuk, puncak gunung nan tinggi menjadi simbol satu kesatuan dan kekuatan tertinggi di alam semesta, Dia-lah Tuhan Sang Pencipta. Di sanalah berpadu dan menyatunya anatara kawulo (manusia) dengan Gusti-nya (Tuhan-nya). 

Seperti dikutip dari laman idetrips.com, gunung Merapi memiliki banyak objek wisata yang bisa dikunjungi oleh Liners. Dimulai dari wisata petualang, fotografi hingga edukasi. Wisata petualangan bisa Liners nikmati dengan mengikuti Lava Tour atau kegiatan menjelajahi area merapi dengan menggunakan Jeep. Jika ingin berfoto, ada tempat yang cocok Liners, yaitu di Batu Alien yang merupakan batu besar sisa erupsi 2010 dengan diameter lima meter dan memiliki bentuk mirip makhluk luar angakasa. Atau Liners juga bisa berfoto di Bunker Kaliadem. Oh ya, di Merapi ada objek wisata baru loh. Namanya Stonehenge Merapi yang merupakan replika Stonehenge yang berada di Inggris dengan susunan batu yang bertumpuk rapi mirip Stonehenge yang asli. Untuk wisata edukasinya, Liners bisa ke Museum Merapi dan Museum Sisa Hartaku. Museum Merapi berisi informasi tentang kegunungapian khususnya gunung Merapi. Sedangkan Museum Sisa Hartaku berisi benda-benda rusak akibat terjangan awan panas gunung Merapi dan beberapa dokumentasi keganasan Merapi di tahun 2010.

Wisata ini buka setiap hari, Liners. Jadi bisa ke Merapi kapan saja tergantung apa yang ingin Liners nikmati di Merapi dan bagaimana kondisi gunung Merapi. Maklum gunung Merapi masih aktif, Liners.

Tugu Pal Putih (Tugu  Golong Gilig)

Tugu ini berlokasi di tengah perempatan antara Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Badan Tugu berbentuk silinder atau disebut gilig, dan bagian puncaknya berbentuk bulat atau disebut golong. Oleh karenanya Tugu Jogja disebut juga dengan Tugu Golong-Gilig. Ada filosofi mendalam dengan bentuk tersebut, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Maksudnya adanya tingkat kedekatan tinggi makhluk kepada sang penciptanya.

Tugu ini Sering dipakai sebagai tempat digelarnya doa bersama dalam peringatan-peringatan penting. Selain itu, masyarakat sekitar ataupun wisatawan memanfaatkan keindahan tugu pada malam hari untuk sekedar berfoto sambil menikmati suasana angina malam. Jadi untuk menikmati keindahan Tugu Pal Putih, Liners bisa datang di malam hari.

Dibalik keindahannya, ternyata Tugu Pal Putih memiliki sejarah tersendiri, Liners. Pada 10 Juni 1867, gempa dahsyat melanda Yogyakarta, hingga mampu merobohkan Tugu Jogja sampai sepertiga bagian yang semula 25m menjadi 15m. Maka pada tahun 1889 Belanda yang saat itu masih menguasai Yogyakarta merenovasi Tugu Jogja. Namun sayangnya renovasi yang mereka lakukan justru mengubah sebagian besar keaslian Tugu.

Alun- alun Lor (Alun-alun Utara)

Memiliki luas 300 x 300 meter dengan dua pohon beringin besar berpagar yang berada di tengahnya, Alun-alun Lor beserta pohon beringin di tengahnya menggambarkan konsepsi manunggaling kawula Gusti, bersatunya raja rakyat dengan raja dan bertemunya manusia dengan Tuhan.

Alun-alun Lor saat pagi hari dimanfaatkan sebagai tempat olahraga, kalau sore biasa dipakai jalan-jalan sore. Pada malam hari tentu saja menjadi tempat yang nyaman untuk berjalan-jalan sekedar mengitari alun-alun. Atau jika ingin menikmati Alun-alun Lor dengan suasana yang berbeda, Liners bisa datang ke Alun-alun Lor saat Bulan Mulud atau Bulan Rabiul Awal. Karena  di tempat ini diselenggarakan pesta rakyat yaitu Sekaten. Sebuah pesta rakyat memperingati tahun baru Islam, sekaligus juga sebuah bentuk perayaan rasa syukur atas hasil alam yang melimpah.

Keraton Yogyakarta

Dari Alun-alun Utara, Liners bisa melanjutkan perjalanan menuju Keraton yang persis berada selatan alun-alun. Di Keraton, Liner bisa mendapatkan wisata sejarah, foto, dan pagelaran seni.

Wisata Sejarah bisa Liners dapatkan barang bersejarah koleksi keraton Yogyakarta dari dekat seperti kereta kencana para raja Yogyakarta pada zaman dahulu, koleksi lukisan, benda pusaka seperti keris, tombak dilengkapi dengan nama-namanya, perangkat musik seperti gamelan dan gong. Liners juga dapat berfoto dengan background benda-benda koleksi keraton Yogyakarta dengan membayar tiket izin mengambil gambar seharga Rp.1000,-.

Selain bisa melihat langsung bagaimana para abdi dalem keraton Yogyakarta menyambut para pengunjung dengan busana adat Keraton Jogja, Liners juga bisa melihat pagelaran pentas seni yang digelar setiap hari untuk para wisatawan. Untuk Senin & selasa ada pagelaran musik gamelan, Rabu        untuk wayang golek menak, Kamis             untuk pertunjukan tari, Jumat untuk kesenian Macapat, Sabtu untuk pertunjukkan wayang kulit dan Minggu kesenian wayang orang & pertunjukan tari. Senin sampai Jumat pagelaran dimulai dari jam 10.00 WIB, sedangkan hari Sabtu dan MInggu pagelaran seni dimulai dari jam 09.30 WIB.

Keraton juga buka setiap hari Liners, tapi dengan durasi kunjungan yang berbeda. Setiap harinya buka dari jam 08.00 WIB sampai jam 14.00 WIB, khusus hari Jumat, Liners hanya bisa berkunjung sampai jam 12.00 WIB saja.

Alun-alun Kidul (Alun-alun Selatan)

Alun-alun ini berada di Benteng Keraton, memiliki luas 150x150m di tengahnya ditanam pohon dua pohon beringin. Pagi dan sore di Alun-alun Kidul tak seramai di malam harinya. Pada malam hari, tentu saja alun-alun ini menjadi tempat yang nyaman untuk berjalan-jalan sekedar mengitari alun-alun dengan menaiki mobil ataupun sepeda yang dihiasi dengan lampu warna-warni. Di alun-alun ini terdapat lima bukaan sebagai jalan keluar masuk (jalan langenastran kidul, jalan langenastran lor, jalan ngadisuryan, jalan patehan lor, dan jalan gading) melambangkan kelima indera manusia. Permukaan alun-alun yang ditutupi pasir melambangkan bahwa indera manusia masih labil dan mudah berubah secara tidak teratur, seperti pasir.

Panggung Krapyak

Berlokasi di Desa Krapyak, Kelurahan Panggungharjo, Panggung Krapyak yang menyerupai kotak ini memiliki ukuran luas 17,6 m x 15 m dan tinggi 10 m. Dindingnya terbuat dari batu bata merah yang dilapisi semen. Pada setiap sisinya terdapat sebuah pintu dan dua buah jendela yang berada di kanan kirinya. Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Lantai bawah terbagi ke dalam empat ruangan yang dihubungkan oleh lorong. Lantai atas atau atapnya adalah sebuah tempat terbuka yang dibatasi oleh pagar di keempat sisinya. Dalam konsep filosofi tradisional Jawa Panggung Krapyak terletak pada sumbu imajiner, pada lokasi yang dimanifestasikan tahap alam roh sebelum pertemuan bapak antara ibu.

Laut Selatan

Dari banyaknya pantai di laut selatan, Pantai Parangkusumo dianggap sebagai pintu gerbang masuk ke istana laut selatan. Pantai Parangkusumo terletak di Kabupaten Bantul, berjarak sekitar 30 km sebelah selatan kota Yogyakarta. Lebih tepatnya di Desa Parangtritis, Kretek, Bantul Yogyakarta. Berkunjung ke obyek wisata Pantai Parangkusumo ini akan sangat menarik bila bertepatan dengan berlangsungnya acara upacara ritual Labuhan atau Melasti dan ketika waktu liburan saat pengunjung tumpah ruah bermain dan beraktivitas di tepian pantai Parangkusumo ini. Selain saat tersebut diatas, ada moment yang sangat menarik dapat disaksikan para pengunjung yaitu waktu sunset tiba yang merupakan waktu terbaik menikmati panorama saat matahari terbenam di balik cakrawala Pantai Parangkusumo.

Dian Hastuti

Menikmati Keindahan Puncak Becici Mangunan

Previous article

Turnamen Mayor PGA 2019 Mulai Lebih Awal

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Infografis