Presiden Prabowo Subianto (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) sebelum melakukan pertemuan di sela-sela Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). Foto: ANTARA FOTO/HO/Setpres-Muchlis
Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Vladivostok, Rusia, dan berangkat dari Lanud Halim Perdanakusuma pada 1 September 2026 sekitar pukul 23.20 WIB. Setelah menempuh perjalanan sekitar 8 jam, Presiden Prabowo tiba di Vladivostok dan disambut oleh sejumlah pejabat Rusia serta perwakilan Indonesia. Beliau kemudian meninggalkan lokasi penyambutan menggunakan Aurus Senat, mobil premium buatan Rusia yang terlihat dilengkapi bendera Indonesia di bagian depan.
Pada 3 September 2026, Presiden Prabowo bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan bilateral di sela-sela Eastern Economic Forum (EEF) ke-11. Putin menyampaikan terima kasih atas kedatangan Prabowo sebagai tamu kehormatan utama EEF serta menyebut Indonesia sebagai salah satu mitra kunci Rusia di kawasan Asia-Pasifik dengan hubungan persahabatan yang terjalin bertahun-tahun. Putin juga menyoroti peningkatan volume perdagangan Rusia dan Indonesia sebesar 12 persen pada tahun sebelumnya, serta membuka peluang kerja sama di sektor pertanian, pembangunan kapal, teknologi digital, dan energi nuklir.
Menanggapi hal tersebut, Prabowo menyampaikan apresiasi atas sambutan Putin, merasa terhormat dapat kembali bertemu, sekaligus meminta maaf karena tidak dapat menghadiri KTT ASEAN-Rusia di Kazan pada 18 Juni 2026 akibat persoalan dalam negeri. Dalam agenda EEF, Prabowo turut menjelaskan alasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak dan ibu hamil agar keberhasilan pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Prabowo juga menekankan tanggung jawab pemerintah dalam melindungi masyarakat yang lemah, memberantas korupsi, mengelola sumber daya nasional, melakukan investasi jangka panjang, serta mencapai swasembada pangan, ketahanan energi, perdamaian, dan kedaulatan.
Selain mempererat hubungan diplomatik, Presiden Prabowo juga mendorong pembukaan jalur pelayaran dan penerbangan langsung antara Indonesia dan Rusia untuk memperkuat konektivitas kedua negara. Prabowo menilai hubungan bisnis yang semakin intensif perlu dikembangkan dari hubungan personal menjadi kerja sama kelembagaan yang kuat, didukung aturan yang jelas, sistem pembayaran yang dapat diandalkan, serta logistik yang terprediksi. Untuk jalur laut, Prabowo mengusulkan pengiriman langsung yang kompetitif antara Vladivostok dan Indonesia dengan kepastian mengenai jadwal, biaya, asuransi, dan kargo dua arah. Sementara penerbangan langsung didorong untuk meningkatkan mobilitas masyarakat, membuka peluang wisatawan Rusia berkunjung ke Indonesia, serta memungkinkan warga Indonesia mengunjungi kawasan Timur Jauh Rusia, yang digambarkan melalui ungkapan “kapal mengangkut barang, pesawat mengangkut persahabatan”.
Tidak hanya itu, pemerintah Indonesia juga mengundang perusahaan-perusahaan Rusia untuk berinvestasi dan mengembangkan 138 blok eksplorasi energi yang telah dibuka. Kerja sama energi ini tidak hanya menyasar eksplorasi, tetapi juga mencakup rencana pembangunan kilang dan terminal penyimpanan energi. Indonesia memiliki pasokan LNG yang cukup sehingga tidak secara langsung membutuhkan pasokan gas dari Rusia, namun pemerintah tetap membuka peluang penggunaan teknologi Rusia dalam proyek bersama. Kerja sama bilateral ini juga merambah sektor produksi pupuk berbasis gas melalui penandatanganan MoU dengan kelompok usaha terbesar Rusia di wilayah Timur Jauh Rusia, serta masuknya perusahaan aluminium Rusia Rusal ke Indonesia dalam skala besar untuk mengembangkan kilang bersama. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia-Rusia kini diarahkan pada investasi dan pembangunan proyek bersama, bukan sekadar perdagangan.
Penulis : Azar Amalanisa Syafir
Riset : Qibty Fatiha Zindah
#Rusia #PrabowoSubianto #SektorEnergi