Foto: Ilustrasi Karhutla Kutai Barat Meluas, 415,51 Hektare Hutan dan Lahan Terbakar. (sumber : detiknews)
Indonesia tengah menghadapi rangkaian bencana yang terjadi di sejumlah wilayah. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kalimantan dan Sumatra, gempa bumi mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sementara kebakaran menghanguskan Kampung Adat Sade di Nusa Tenggara Barat (NTB). Di tengah berbagai bencana tersebut, penanganan terus dilakukan oleh pemerintah dan petugas di lapangan untuk mengurangi dampak yang dirasakan masyarakat.
Salah satu bencana yang menjadi perhatian adalah kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan dan Sumatra. Karhutla terjadi di tengah gelombang iklim kering akibat El NiƱo yang berada dalam kondisi kuat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi kemarau tersebut membuat sejumlah wilayah berada dalam status kewaspadaan terhadap karhutla.
Di Kalimantan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan berada dalam status Siaga. Sementara itu, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur berada dalam status Waspada. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman kebakaran masih perlu mendapatkan perhatian, terutama karena masih terdapat titik api yang harus dimitigasi. Besarnya dampak karhutla terlihat dari luas wilayah yang terbakar. Berdasarkan data per 22 Agustus 2026, total luas karhutla di Indonesia telah mencapai 72.798 hektare.
Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan area terbakar paling luas, yakni mencapai 38.310 hektare. Setelahnya, Riau mencatat luas lahan terbakar sebesar 16.249 hektare. Kebakaran yang terjadi di Kalimantan juga tidak sepenuhnya berkaitan dengan kondisi iklim. Faktor manusia turut menjadi perhatian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat mengungkapkan sekitar 99 persen titik api dipicu oleh ulah manusia. Kebakaran tersebut terutama terjadi dalam aktivitas pembukaan lahan perkebunan di area tanah gambut.
Dugaan keterlibatan manusia kemudian berlanjut pada proses hukum. Bareskrim Polri telah menetapkan 72 orang sebagai tersangka dalam kasus pembakaran lahan secara mandiri. Selain itu, pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) juga memproses penyelidikan terhadap empat korporasi yang bergerak di bidang perkebunan dan pertambangan. Upaya pemadaman karhutla sendiri menghadapi berbagai kendala. Petugas di lapangan mengalami kesulitan mendapatkan sumber air akibat penurunan muka air tanah yang drastis selama musim kemarau. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman menjadi semakin berat, sementara titik kebakaran masih harus terus ditangani.
Di tengah persoalan karhutla, bencana lain terjadi di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Gempa bumi dengan magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Setelah gempa utama tersebut, gempa susulan terus terjadi dan jumlahnya mencapai 6.407 kejadian hingga 24 Agustus 2026. Aktivitas gempa yang masih berlangsung membuat dampak terhadap masyarakat terus terasa. Jumlah warga yang mengungsi mencapai 150.576 jiwa. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, yaitu 41.427 orang. Kemudian Kabupaten Nagekeo mencatat 34.256 orang dan Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 31.372 orang. Selain menyebabkan warga harus meninggalkan tempat tinggalnya, gempa juga mengakibatkan korban luka. Sebanyak 1.298 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, 336 orang mengalami luka berat dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Dalam penanganan bencana tersebut, Pemerintah Indonesia menolak bantuan kemanusiaan dari China dan Iran. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyatakan pemerintah masih mampu memenuhi kebutuhan pengungsi. Namun, hingga hari keenam, sejumlah pengungsi mandiri di Kabupaten Sikka belum menerima bantuan pangan. Di Pasar Tradisional Alok, warga bertahan di tenda darurat dan lapak pedagang karena takut kembali ke rumah. Minimnya makanan membuat sebagian warga terpaksa mengonsumsi ubi-ubian. Bantuan sembako yang diterima hanya berasal dari partai politik.
Persoalan lain muncul dari kondisi pengungsi mandiri di Kabupaten Sikka. Sejumlah pengungsi masih mengeluhkan minimnya bantuan logistik pangan. Mereka harus bertahan di tempat pengungsian mandiri di tengah kondisi gempa susulan yang masih terjadi. Hal ini terjadi karena area masih terisolasi akibat akses transportasi terputus. Polisi belum dapat memasuki wilayah tersebut karena jalan tertutup material longsor dan kondisi dinilai berbahaya. Jalur laut juga belum memungkinkan karena gelombang tinggi membahayakan tim Polres Sikka, Basarnas, dan TNI.
Persoalan lain muncul dari kondisi pengungsi mandiri di Kabupaten Sikka. Sejumlah pengungsi masih mengeluhkan minimnya bantuan logistik pangan. Mereka harus bertahan di tempat pengungsian mandiri di tengah kondisi gempa susulan yang masih terjadi.
Bencana juga terjadi di Nusa Tenggara Barat. Kebakaran hebat menghanguskan Kampung Adat Sade yang berada di Desa Rambitan, Lombok Tengah, pada Sabtu malam. Sebanyak 129 rumah di kampung adat tersebut ludes terbakar.

Kampung Adat Sade merupakan kampung bersejarah masyarakat suku Sasak. Struktur rumah adat yang menggunakan jerami dan anyaman bambu membuat bangunan di kawasan tersebut terbakar. Kebakaran tersebut menyebabkan rumah-rumah warga hangus dan membuat masyarakat terdampak membutuhkan penanganan. Pemerintah Provinsi NTB kemudian menyiapkan skema rekonstruksi untuk pemukiman adat tersebut. Pemerintah juga menjamin keberlangsungan pendidikan anak-anak serta pemenuhan kebutuhan pokok dasar bagi warga yang terdampak kebakaran. Sementara itu, penyebab utama kebakaran masih dalam penyelidikan. Tim Inafis Polri melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kebakaran yang menghanguskan rumah-rumah di Kampung Adat Sade.
Rangkaian bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia tersebut mendorong pemerintah untuk melakukan penanganan secara bersamaan. Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas di Kalimantan Barat dan Hambalang guna mempercepat instruksi penanganan karhutla serta bantuan untuk bencana gempa di NTT.
Dalam penanganan karhutla, pemerintah mengoptimalkan satuan tugas darat dan menggunakan helikopter water bombing. Pengerahan personel TNI-Polri juga dilakukan untuk membantu menanggulangi dampak bencana. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan penanganan bencana gempa di NTT.
Penanganan tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak bencana terhadap masyarakat. Berbagai langkah terus dijalankan di wilayah terdampak, mulai dari pemadaman kebakaran, penanganan pengungsi, penyediaan kebutuhan dasar, hingga penyelidikan terhadap penyebab bencana. Kondisi di lapangan masih membutuhkan perhatian dan koordinasi agar penanganan dapat terus berjalan dengan baik serta masyarakat terdampak memperoleh bantuan yang diperlukan selama masa tanggap dan pemulihan.
Berbagai bencana yang terjadi secara berdekatan memperlihatkan besarnya tantangan yang harus dihadapi Indonesia. Karhutla masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatra, aktivitas gempa susulan masih berlangsung di Flores, sementara kebakaran Kampung Adat Sade meninggalkan kerusakan terhadap permukiman masyarakat. Di tengah kondisi tersebut, penanganan bencana terus dilakukan melalui pengerahan petugas, pemadaman, penyelidikan, hingga upaya pemulihan bagi masyarakat terdampak. Pemerintah juga mengambil langkah melalui koordinasi dan rapat terbatas untuk memastikan penanganan berbagai bencana dapat berjalan secara bersamaan.
Riset : Ayudya Azzahra
Penulis : Naila Puspita Ramdhan