Gunung Anak Krakatau (Andersen Oystein/Getty Images)
Gunung Anak Krakatau saat ini sedang mengalami erupsi. Erupsi terus-menerus dimulai sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB, disertai dentuman dan suara gemuruh yang terdengar dari pos pengamatan Gunungapi Anak Krakatau. Masyarakat di wilayah Lampung dan Banten khawatir terhadap potensi tsunami, mengingat peristiwa tsunami pada 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus memantau perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari . Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III (Siaga).Berdasarkan pengamatan Sabtu (5/9) pukul 00.00–06.00 WIB, erupsi masih berlangsung dan secara visual diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau lava air mancur yang teramati pada malam hari.
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar hingga wilayah Jakarta. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika (BMKG) per pukul 04.00 WIB, Minggu (6/9/2026), terdapat dua klaster sebaran abu. Klaster pertama mengarah ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dengan ketinggian mencapai 20 ribu kaki. Klaster kedua teramati ke arah barat daya–barat laut, dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki, mencakup sebagian Banten hingga Lampung.
Sebanyak 209 penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) terdampak akibat erupsi. Bandara memperpanjang penutupan operasional hingga Minggu (6/9) pukul 09.30 WIB. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, total 22.798 penumpang terdampak selama periode penutupan tersebut. Untuk penerbangan internasional, 16 penerbangan dibatalkan, tujuh ditunda, dan lima dijadwalkan kembali. Rute terdampak mencakup Singapura (SIN), Hong Kong (HKG), Sydney (SYD), Seoul/Incheon (ICN), Doha (DOH), Amsterdam (AMS), dan Kuala Lumpur (KUL). Sementara penerbangan domestik mencatat empat pembatalan dan satu pengalihan, dengan rute terdampak antara lain Lampung (TKG), Denpasar (DPS), dan Surabaya (SUB).

Dampak abu vulkanik juga membuat aktivitas perguruan tinggi perlu disesuaikan. Kemdiktisaintek mengimbau kampus mengurangi aktivitas di luar kampus serta menerapkan pembelajaran dan layanan secara daring atau hibrid.
Dalam hal ini, pemerintah mengambil langkah tegas. Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan masyarakat untuk tidak mendekati atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan tiga hal utama.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan tiga hal utama, yaitu keselamatan, kesiapsiagaan, dan kewaspadaan masyarakat. Pemerintah daerah perlu memastikan tidak ada masyarakat maupun wisatawan yang berada dalam radius bahaya melalui pengawasan dan patroli. Kesiap siagaan juga perlu ditingkatkan dengan memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi, dan kebutuhan dasar siap digunakan jika diperlukan evakuasi. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi arahan petugas dengan tidak mendekati kawasan gunungapi untuk menyaksikan atau mendokumentasikan erupsi, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta menyampaikan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik. Masyarakat diimbau menggunakan masker saat berada di luar rumah, mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi agar abu tidak masuk ke rumah. Makanan dan minuman juga perlu ditutup untuk mencegah kontaminasi, sementara kacamata pelindung dapat digunakan untuk mengurangi risiko iritasi mata.
Jika mata terkena abu, jangan menguceknya dan segera bilas dengan air bersih. Pengendara, terutama pengguna sepeda motor, juga perlu berhati-hati karena abu dapat mengurangi jarak pandang dan membuat jalan licin. Masyarakat diminta terus memantau informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika (BMKG), Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (Pvmbg), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan pemerintah daerah.
Selain langkah tersebut, Pemprov DKI Jakarta menganjurkan masyarakat menerapkan 5M, yaitu memakai masker, menutup akses masuknya abu, membatasi aktivitas, membersihkan abu menggunakan kain lembap, serta memantau informasi resmi. Dari langkah tersebut, masyarakat juga diingatkan untuk membersihkan abu dengan kain lembap dan tidak menyapu abu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Penulis: Naila Puspita Ramdhani