Lifestyle

“Doomscrolling”: Kebiasaan Menelusuri Berita Negatif

0
doomscrolling di handphone
Doomscrolling yang sedang naik daun, namun berkonotasi negatif | Sumber: yesdok.com

ALINEA – Menghabiskan waktu dengan memantau timeline media sosial atau sekedar surfing di laman internet berjam-jam sudah menjadi kebiasaan paling umum. Terlebih di tengah pandemik COVID-19 ini. Hal ini membuat masyarakat memiliki ketergantungan dalam menelusuri konten menarik yang sedang menjadi trend di dunia maya.

Namun, kewaspadaan kita dalam memantau sebuah informasi atau berita yang kurang menyenangkan bisa menimbulkan berbagai perasaan negatif. Bisa saja sedih, marah, tertekan, bahkan depresi dalam jangka waktu yang lama jika kebiasaan tersebut berjalan terus menerus. Nah, kebiasaan inilah yang disebut sebagai doomscrolling.

Arti Kata Doomscrolling

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan istilah doomscrolling? Kata “doom” sendiri dikonotasikan sebagai ‘kegelapan’ yang bersifat ‘jahat’. Lebih jauhnya lagi, yaitu perasaan ‘terhakimi’ dan ‘tertekan’ ketika membaca sebuah berita, sehingga mindset kita tenggelam dalam rasa takut. Perasaan ini yang memungkinkan kita memiliki pikiran-pikiran negatif.

Kamus Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai berikut:

Kecenderungan dalam menelusuri informasi negatif yang mengharuskan kita untuk menemukan sebuah jawaban. Padahal kecenderungan ini muncul karena dorongan dari diri kita sendiri yang merasa  terdesak dalam perasaan takut.

© 2020 Merriam-Webster, Incorporated

Penyebab Doomscrolling            

Babita Spinelli—seorang Psikoanalisis dari New Jersey—menjelaskan bahwa selama masa stres ini, masyarakat beralih ke media sosial untuk memperoleh informasi. Jadi, tak heran bila ribuan informasi yang dicerna oleh pengguna internet bisa langsung mempengaruhi tingkat stres yang dimilikinya.

“Memang tidak ada salahnya terus update tentang berita-berita terkini, terutama yang menyangkut soal COVID-19. Tetapi, perlu diingat bahwa kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkan suatu informasi yang bisa mengacaukan pikiran kita. Karena di tengah situasi krisis seperti ini, menjaga kesehatan fisik dan mental adalah yang terpenting,” ucap Spinelli.

Cara Mengatasinya

Kebiasaan yang tak disadari ini perlu kita hentikan, sebab dapat mempengaruhi pikiran kita dalam jangka waktu panjang. Hal ini terutama saat dihadapkan dengan situasi krisis yang membutuhkan jiwa dan pikiran yang tenang sebelum mengambil suatu keputusan.

Pertama, ada baiknya untuk memilah kabar-kabar buruk di tengah pandemik ini, terutama yang membuat hati dan pikiran gusar. Lalu kedua, perbanyaklah waktu dalam menjalankan aktifitas bermanfaat lainnya, seperti membaca buku, serta menjalin kehangatan bersama teman dan keluarga. Alternatif lainnya yaitu memasak menu baru dan olahraga ringan dalam mempersiapkan diri selama masa ‘New Normal’.

Baca juga: Brave New World, Buku Klasik dari Era yang Jauh di Masa Depan

Karena tidak selamanya hal buruk itu selalu ada, selalu sisihkanlah waktu kita untuk melihat sisi baik dari berbagai aspek. Dengan begitu, kita dapat membentuk pikiran positif secara perlahan dan kembali beraktifitas seperti semula.

(Aisyah Amardhani)

Tips Mendaki Gunung Era New Normal

Previous article

Sambut Hari Pramuka, Ini Rekomendasi Tempat Perkemahan di Jogja!

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login/Sign up