Travel

Yuk, Menjajal Buku-buku Bekas Berkonsep Unik di The Lucky Boomerang Bookshop!

0

“Le monde est un livre dont chaque pas nous ouvre une page.”
(The world is a book—with each step we open a page.)
Alphonse de Lamartine

Yogyakarta – Baca buku pasti seru. Apalagi kalau sembari mempelajari bahasa asing, seperti Bahasa Prancis. Seperti apa yang dikatakan Alphonse de Lamartine, dunia adalah sebuah buku. Kita bisa mengetahui segalanya mengenai dunia ini hanya dengan membaca buku.

Sekarang ini, tidak hanya buku-buku cetak saja yang beredar. Ada pula eBook (electronic book/buku elektronik) yang bisa dibaca di Ponsel, dan Audio Book yang cukup Liners dengarkan. Dengan semakin banyak jenis buku yang beredar, tentunya buku cetak juga tidak mau ketinggalan. Selain makin banyak buku-buku baru yang tercetak tiap tahunnya, ada pula buku-buku bekas layak baca yang bahkan bisa bernilai jutaan. Wah!

Kalau ngomongin buku-buku bekas, pastinya ada toko buku khususnya dong. Di Yogyakarta sendiri, ada banyak toko buku bekas. Salah satunya adalah yang terletak dekat dengan Malioboro, yaitu The Lucky Boomerang Bookshop!

The Lucky Boomerang Bookshop
(Dok. Alinea – Pinky)

Liners bisa menempuhnya dengan menaiki Trans Jogja maupun kendaraan pribadi. Kalau memilih naik Trans Jogja, Liners bisa turun di Halte Malioboro 1, lalu berjalan sekitar 3 – 5 menit ke lokasi toko buku ini. Nah, kalau memilih naik kendaraan pribadi, Liners cukup mengikuti panduan yang ada di Google Maps. Tapi pastikan dulu kendaraan apa yang akan dikendarai. Karena lokasinya yang berada di gang kecil, tentu Mobil tidak bisa melewatinya. The Lucky Boomerang Bookshop ini beralamatkan di Jalan Sosrowijayan GT / 95, Gg. 1, Kota Yogyakarta.

Ukuran toko buku ini memang tergolong kecil jika dibandingkan dengan toko buku lainnya, tapi jangan salah, koleksinya benar-benar beragam! Ada buku berbahasa Inggris, Prancis, Spanyol, hingga Jerman. Tapi kalau Liners mencari buku berbahasa Indonesia, The Lucky Boomerang Bookshop tidak menyediakannya, ya. Nah, kalau tertarik atau sedang mendalami bahasa asing, mampir ke toko buku ini bisa jadi alternatif untuk menambah koleksi bacaan. ¡Qué maravillosa! (Luar biasa!)

Walaupun toko buku bekas, tapi semua bukunya nampak terawat. Tidak akan deh buku yang sampulnya hilang atau isinya tercoreng. Bahkan beberapa di antaranya ada yang sudah terbungkus plastik.

Tentu saja The Lucky Boomerang Bookshop punya keunikannya tersendiri dibanding toko buku lainnya. Pertama, kalau Liners sudah selesai membaca, buku tersebut bisa dikembalikan loh. Bahkan Liners juga bisa mendapatkan pengembalian uang sebesar 50%. Ide ini datang dari kebiasaan orang-orang di Eropa. Kebanyakan dari mereka tidak mengoleksi banyak buku di tempat tinggalnya, melainkan mengembalikannya ke toko buku asalnya. Menarik, bukan?

Selain menjual berbagai buku bekas, The Lucky Boomerang Bookshop juga menjual berbagai barang-barang bernuansa etnik. Mulai dari pembatas buku, dompet, kartu pos, bros, hingga hiasan dinding. Tengok ke kanan, penuh berjajar buku-buku. Tengok ke kiri, ada berbagai barang etnik khas Indonesia. Apalagi pembatas buku, jadi Liners tidak perlu risau memikirkan pembatas buku apa yang akan dipakai, Liners bisa membelinya! Bisa juga untuk dijadikan koleksi.

Unik dan menarik banget ya The Lucky Boomerang Bookshop ini! Setiap tahunnya, akan ada tambahan buku yang dibawa langsung dari Australia. Liners juga bisa menjual buku bekas ke toko buku ini, asalkan masih dalam kondisi yang terawat. Kalau cocok untuk dijual, maka The Lucky Boomerang Bookshop siap membelinya! Ayo belanja buku di The Lucky Boomerang Bookshop! Yakin deh Liners tidak akan datang melihat-lihat saja, pasti akan bawa pulang setidaknya 1 buku.

Bisa membaca bukunya dulu sebelum membeli
(Dok. Alinea – Pinky)

(Pinky)

Pinky Nur Azizah
Mahasiswi Sekolah Tinggi Multi Media "MMTC" jurusan Penyiaran, prodi Manajemen Produksi Siaran (Manaprodsi). Menekuni bidang menulis karena merasakannya sebagai sebuah kebutuhan dan refleksi diri, serta bidang berita online untuk mengasah kemampuan dan menambah pengalaman. Memiliki nama pena yaitu Prince Pinky.

Banyak Sampah, Begini Strategi Prenagent untuk Pantai Parangtritis

Previous article

Beda Budaya Makanan Khas Tionghoa

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Travel